Mengenal Komunitas Pemuda Hijau Indonesia

Watermark image

INI bermula dari kegundahan hati sekelompok remaja yang tidak rela lingkungan hidupnya rusak  secara terus menerus. Lalu, terlahirlah gagasan membuat suatu komunitas, dimana di dalam komunitas itu, semua orang bisa saling berbagi dan peduli. Dan terbentuklah Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) yang hari ini, Minggu (02/12) menyelenggarakan kongres untuk kedua kalinya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

KOPHI digagas oleh beberapa anak muda yang berasal dari sejumlah kampus di Ibukota Jakarta. Di antaranya adalah Yudithia, Lidwina Marcellam dan Agusman. Komunitas ini resmi terbentuk pada 30 Oktober 2010. Pada waktu itu, anggotanya baru 50 orang.

“Tujuan KOPHI adalah untuk menjadi suatu wadah bagi anak muda yang ingin menjadi bagian dari solusi masalah perubahan iklim sehingga mereka dapat bergerak bersama-sama untuk melakukan sebuah tindakan secara kolektif dan berkelanjutan demi terciptanya lingkungan Indonesia yang lestari,” kata Sri Rizki Kesuma Ningrum, Media Relation Coordinator KOPHI, saat berbincang dengan Wartakotalive di Museum Penerangan, TMII.

Terjun ke dalam komunitas pemerhati kelestarian lingkungan hidup, jelas membutuhkan komitmen dan konsistensi. Apalagi, baru sedikit kalangan muda yang sadar dan mau mendedikasikan diri untuk urusan ini.

Keadaan demikian, justru menjadi tantangan tersendiri bagi KOPHI untuk lebih banyak menularkan pesan kepedulian lingkungan. Dan usaha mereka untuk mempromosikan cinta alam, terutama di kalangan anak muda, mulai membuahkan hasil. Buktinya, jumlah anggota komunitas terus bertambah. Tidak hanya di Jabodetabek, bahkan tersebar di 18 provinsi dengan lima provinsi baru, dari dataran Sumatera hingga Tanah Papua.

Kini, KOPHI kaya akan pengalaman. Tiap daerah yang mereka perhatikan, punya problem yang berbeda sesuai karakteristik daerah masing-masing.

“Misalnya Kalimantan, masalah yang kerapkali terjadi adalah soal pembalakan liar dan eksploitasi hasil tambang oleh perusahaan-perusahaan yang dilakukan dengan serampangan,” kata Rizki. “Masalah berbeda mungkin ditemui oleh KOPHI wilayah lain. Ini kenapa kemudian KOPHI wilayah diberikan otonomi untuk mengadakan kegiatan di masing-masing provinsinya.”

Kongres Nasional untuk Evaluasi dan Diskusi

Kongres Nasional yang diselenggarakan selama empat hari, mulai 29 November 2012 dan ditutup hari ini, selain sebagai ajang berkumpul, juga dimaksudkan untuk saling berbagi tentang pengalaman di masing-masing daerah. Sekaligus juga untuk presentasi program kerja dan project KOPHI daerah.

Sebagaimana diungkapkan Maria Katherina Gnadia Liandy, Ketua Umum KOPHI yang baru terpilih, kongres ini untuk menyatukan anggota dari berbagai provinsi di Indonesia, juga untuk merumuskan program-program kerja secara nyata dan menyeluruh, serta saling berdiskusi terkait dengan isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan di wilayahnya masing-masing.

“Kami ingin menciptakan gerakan nasional agar kami tidak asal bicara saja, tapi juga harus diwujudkan secara nyata,” kata Maria Katherina Gnadia Liandy yang akrab disapa Keket.

“Selain itu juga sidang AD/ART, pengesahan ketua perwakilan tiap daerah, juga pemilihan ketua umum baru. Dan kebetulan saya dipercaya untuk menjadi ketua umum yang baru, menggantikan Lidwina Marcella selaku ketua umum lama,” Keket menambahkan.

Kampanye Cinta Lingkungan

Rupa-rupa aktivitas untuk menyelamatkan dan melestarikan lingkungan dilakukan anggota KOPHI. Mereka kampanye melalui online maupun offline. Untuk kegiatan online, KOPHI membuat newsletter dan jurnal sebagai bahan kampanye kepada masyarakat. “Jadi, kami menulis essay tentang lingkungan kemudian kita publis biar masyarakat mengerti dan teredukasi,” Rizki mengungkapkan.

Sedangkan untuk kegiatan offline, dilakukan secara langsung dalam bentuk aksi nyata, dalam kegiatan yang dinamakan Warung KOPHI (Wadah Berkumpul dan Sharing Antar Komunitas Lingkungan) dan Gelas KOPHI (Gerakan Lingkungan Aksi Sosial).

Dalam kegiatan Gelas KOPHI, mereka kerab turun langsung ke lapangan untuk mengedukasi masyarakat mengenai berbagai hal terkait pelestarian lingkungan. Seperti yang pernah dilakukan di Desa Sukagalih, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor. Desa Sukagalih merupakan salah satu desa binaan mereka. Di desa tertinggal ini, KOPHI Jakarta melakukan dorongan kepada penduduk untuk memanfaatkan bahan-bahan yang berasal dari lingkungan untuk pembuatan berbagai kebutuhan seperti pupuk kompos, dan pembuatan bio gas.

Ingin mengenal mereka lebih jauh. Silahkan ikut twitter dan facebook-nya:

Twitter: twitter.com/KOPHI_

Facebook: http://www.facebook.com/kophi.org

Feryanto Hadi
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s