OUR REPORTS

RESUME

LOKAKARYA NASIONAL

“TUJUAN-TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS) INDIKATOR PEMBANGUNAN PASCA 2015

YOGYAKARTA, 12 – 13 MARET 2012

Oleh

Andri Prasetiyo (Kadiv Litbang KOPHI Yogya) dan

Rida Nurafiati (Bendahara Umum KOPHI Yogya)

Let us develop a new generation of sustainable development goals to pick up where the MDGs leave off. Let us agree on the means to achieve them” –– UN General Secretary – Ban Ki Moon

Pendahuluan

Selama lebih dari satu dekade, Millennium Development Goals (MDGs) telah mendominasi paradigma pembangunan global hingga tahun 2015. Pada September 2010, High Level Plenary Meeting of the General Assembly setuju untuk mempercepat target pencapaian MDGs 2015 ini.

Dalam sambutan pembukaan Lokakarya Nasional “Tujuan-Tujuan Pengembangan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) Indikator Pembangunan Pasca 2015” oleh Direktur Jenderal Multilateral, memaparkan bahwa perkembangan negosiasi di PBB sampai saat ini masih berusaha memfinalisasi teks outcome document sejak dikeluarkannya zero draft pada 10 Januari 2012 lalu. Hal ini terlihat dari pembahasan dua tema besar KTT Rio+20, yaitu green economy dan kerangka kelembagaan pembangunan berkelanjutan yang lebih dikenal sebagai institutional framework for sustainable development atau IFSD yang masih jauh dari selesai dan semakin kompleks. Berbagai negotiating groups dan negara-negara telah memberikan tanggapan atas draft tersebut sehingga membuat proses finalisasi akan memakan waktu lebih banyak.

Apa saja poin dari MDGs?

  1. 1.      Eradicate extreme poverty and hunger
  2. 2.      Achieve universal primary education
  3. 3.      Promote gender equality and empower women
  4. 4.      Reduce child mortality
  5. 5.      Improve maternal health
  6. 6.      Combat HIV/AIDS, malaria and other diseases
  7. 7.      Ensure environmental sustainability
  8. 8.      Global partnership for development

 Lalu, tujuan apa yang perlu dicapai pasca 2015 (MDGs)?

Pemerintah Colombia, Guatemala dan Peru mengajukan Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai key outcome dari Rio+20 untuk melengkapi MDGs.  A key outcome of Rio+20 is that of “securing political commitment to Sustainable Development”. Menurut Brundtland Report, “Sustainable development is development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs”.

Berbeda halnya dengan MDGs yang ditujukan hanya pada negara-negara berkembang, SDGs memiliki sasaran yang lebih universal.  Perumusan yang jelas mengenai esensi dari SDGs akan disampaikan dalam KTT Rio+20 pada bulan Juni 2012 mendatang. Isu-isu yang akan diangkat sebagai indikator dalam SDGs adalah:

  1. 1.      Combating poverty
  2. 2.      Changing consumption patterns
  3. 3.      Promoting sustainable human settlement development
  4. 4.      Biodiversity and forests
  5. 5.      Oceans
  6. 6.      Water resources
  7. 7.      Advancing food securities
  8. 8.      Energy, including from renewable sources

Untuk itu, pembahasan terkait SDGs menjelang KTT Rio+20 ini diharapkan dapat memperoleh momentum politis tertinggi sehingga dapat satu suara mengenai pentingnya SDGs sebagai bagian dan pelengkap proses review implementasi MDGs. SDGs juga diharapkan dapat disepakati sebagai bagian dari agenda pembangunan global pasca-2015 dan dapat pula mengidentifikasi berbagai kesenjangan (gap) implementasi berbagai perangkat global untuk pembangunan berkelanjutan, seperti Rio Principles, Agenda21 dan Johannesburg Plan of Implementation (JPoI).

Presentasi  Pertama

”BASIC  PRINCIPLES  OF  SUSTAINABLE DEVELOPMENT ”

PROF.  DR.  SURNA  TJAHJA  DJAJADININGRAT  (GURU  BESAR MANAJEMEN  LINGKUNGAN –  INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG)

Presentasi  pertama  oleh  Prof.  Dr.  Surna  Tjahja  Djajadiningrat  (Guru  Besar Manajemen  Lingkungan  ITB)  dengan  tema  “Basic  Principles  Of  Sustainable Development” menyampaikan  bahwa  pada  prinsipnya  pembangunan  berkelanjutan bukanlah  sebuah  tujuan,  melainkan  sebuah  proses  (journey)  yang  terus  berjalan.

Narasumber  juga  menekankan  bahwa  diperlukan  kerjasama  dan  koordinasi  yang lebih  terintegrasi  antar  instansi-instansi  dengan  melibatkan  sektor  swasta  dan masyarakat  madani  dalam  proses  pembuatan  kebijakan  dan  penerapan pembangunan berkelanjutan.

Presentasi Kedua

“INCLUSIVE AND ENVIRONMENTALLY ECONOMIC GROWTH (GREEN ECONOMY): ENVIRONMENTAL ECONOMIC AS AN APPROACH”

LAKSMI DHEWANTHI – ASISTEN DEPUTI URUSAN EKONOMI LINGKUNGAN, KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA

 

Narasumber ketiga, Ibu Laksmi Dhewanthi, menyampaikan bahwa green economy bukanlah paradigma yang mengharuskan kita menjadi berbeda, akan tetapi harus melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda (do things differently).

Menurut UNEP (2010) green economy is 1) Increase in green investment, 2) Increase in quantity and quality of jobs in green sectors, 3) Increase in share of green sectors in GDP, 4) Decrease in resource use per unit of production, 5) Decrease in Environmental cost of production or consumption, 6) Decrease in wasteful consumption.

 

Green economy adalah kondisi membaiknya kehidupan (well being) dan keadilan social (social equity) dengan secara signifikan mengurangi resiko lingkungan

dan kelangkaan ekologi. Green economy  menghubungkan pertumbuhan

ekonomi, keberlanjutan lingkungan (Bappenas, 2012)

“ Indonesia is of the view that Green Economy is a development 

paradigm that based on resource efficiency approach with strong 

emphasizes on internalizing cost of natural resource depletion on 

environmental degradation, efforts on alleviate the poverty, 

creating decent jobs, and ensuring sustainable economic growth

(Indonesian Delegation/DELRI, UNEP 11th G SS, February, 2010)

Perlu disadari bahwa pertumbuhan ekonomi mengancam lingkungan saat ini, namun ke depannya posisi akan berbalik. Perkembangan lingkungan akan mengancam perekonomian. Jika kondisi terus berlangsung seperti ini, dan green economy tidak segera dijalankan maka menurut United Nations Environment Programme (UNEP) dalam Business As Usual pada tahun 2030 diperkirakan akan terjadi:

  • Global energy demand up by 45%
  • Oil Price up to US$ 180 per barrel
  • Green house gasses emissions up 45 %
  • Global Temperature up to 6 degrees Celsius
  • Sustained losses equivalent to 5-10% of global GDP
  • Poor countries will suffer costs in excess of 10% of their GDP

 

Bagaimana dengan kondisi lingkungan di Indonesia?

Indonesia saat ini tengah mengalami ecological deficit, yaitu adanya ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi sumberdaya hayati. Selain itu emisi gas buang Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun dan kurangnya regulasi dan landasan hukum untuk mengembangkan berbagai insentif terkait lingkungan.

Keadaan kualitas lingkungan di Indonesia, dapat dilihat dari EQI tahun 2006 – 2008 (Environment Quality Index) dari setiap pulau di Indonesia  berdasar surface water quality, air quality and land coverage, dengan urutan sebagai berikut :
1. Papua 75,29%

2. Sulawesi 73,66%

3. Bali dan Nusa Tenggara 68,96%

4. Sumatra 64,63%

5. Kalimantan 62,01%

6. Jawa 53,50%

Suatu negara dapat dikategorikan tiga tahap perkembangan dalam kurva hubungan antara pollution and prosperity:

  1. Poor and clean
  2. Rich and dirty
  3. Rich and clean.

Berdasarkan hal itu, sustainable development and green economy, mengajak negara berkembang melewati tahap rich and dirty karena tahap tersebut sangat berisiko dan penuh masalah.

Elemen penting yang juga mempengaruhi sustainable development dan green economy adalah

  1. Policy network
  2. Technological Innovation
  3. Market Forces

Sangat sulit menemukan win win solution permasalahan atau benturan ekonomi dengan lingkungan. Harus ada titik temu antara peraih keuntungan dan pemerhati lingkungan agar terjadi harmonisasi kehidupan alam ke depannya, antara lain:

–          Building environmental awareness

–          Incentivizing sustainable use of resources

–          Promoting environmental investment

–          Complementing environmental law compliance

Seringkali fakta di lapangan menunjukkan bahwa pelaku ekonomi dan pemerhati lingkungan justru berada dan masuk ke Death Valley. Untuk  itu,  terdapat langkah-langkah  yang  harus  diambil  dalam  penerapan  green  economy,  seperti penetapan harga  pasar  yang  tepat  terkait  l ingkungan  hidup,  pembuatan  kebijakan desentralisasi  yang  terintegrasi,  penerapan  kebijakan  yang  efektif  tanpa pengecualian, serta peningkatan partisipasi para pemangku kepentingan.

Overview of development of incentive instruments

  1. Insentif dari negara
  2. Oleh pasar atau swasta

Contoh di Indonesia, Cirebon yang memberi kabupaten Kuningan insentif dana

Untuk pemda, harus ada pembuatan kebijakan desentralisasi karena berpengaruh bagi pelaku ekonomi.

And finally, suggestions for further development adalah bukan hanya pelaku ekonomi yang harus berubah untuk megembangkan green economy tetapi juga policy maker.

Presentasi Ketiga

“MENCERMATI KERANGKA PEMBANGUNAN PASCA MDGs”

NILA F. A. MOELOEK – UTUSAN KHUSUS PRESIDEN RI UNTUK MDGs

 

Millenium Development Goals (MDGs) telah memasuki tahun ke-11 dan Indonesia memiliki sisa 4 tahun menjelang 2015 untuk merealisasikan delapan poin MDGs menuju tujuan akhir pembangunan nasional. Banyak hal yang belum dilakukan menuju MDGS 2015 , masih banyak kasus tingginya angka kematian ibu, meningkatnya jumlah penduduk dengan HIV/AIDS, buruknya sanitasi, tingginya emisi gas buang, dan lain sebagainya.

Apa yang dapat dilakukan dalam rentang waktu yang tersisa? Pertama, fokus pada pencapaian MDGs 2015 dan fokus pada situasi pasca-MDGs 2015.

 

Titik tolak untuk kesepakatan bersama:

–          Tujuan-tujuan pembangunan dalam MDGs sebagai nomenklatur tidak akan berhenti pada tahun 2015. Isu kemiskinan, pendidikan, gender, kesehatan, lingkungan hidup akan selalu ada.

–          Situasi dunia dewasa ini yang berubah sejak MDGs diluncurkan pada tahun 2000 (Isu perubahan iklim, perlindungan social, pembangunan yang pro-kaum miskin)

Mengapa diperlukan kerangka pembangunan baru pasca-2015?

  1. Untuk mengakomodasi perubahan situasi dunia sejak tahun 2000
  2. Perlunya pembangunan yang berkelanjutan
  3. Isu-isu disparitas yang belum dapat teratasi

 

Presentasi Keempat

“PEMBANGUNAN  SOSIAL-BUDAYA  YANG  DIDUKUNG  EKONOMI  BERWAWASAN LINGKUNGAN” 

DR. FRANCIS WAHONO NITIPRAWIRO, DIREKTUR EKSEKUTIF CINDELARAS

 

Presentasi keempat oleh Dr. Francis Wahono Nitiprawiro, Direktur Eksekutif Cindelaras, dengan  tema  “Pembangunan  Sosial-Budaya  yang  Didukung  Ekonomi  Berwawasan

Lingkungan”  menyampaikan  bahwa  pembangunan  berkelanjutan harus  dianggap  sebagai  mekanisme  proses  berbasis  masyarakat,  bukan  sebagai hasil akhir  pencapaian. Untuk itu,  terdapat 2 agenda dasar yang harus dipenuhi untuk  menuju  pembangunan  berkelanjutan  berbasis  komunitas,  yaitu  reformasi agraria dan pendidikan penyadaran.

Sumber: Materi Presentasi Para Penyaji 

_______________________________________________________________________________________

A Little Note of Green Launching KOPHI Regional Yogyakarta

“Green Mission For The Better Future”

Talkshow: Tindakanmu, Planetmu, Pilihanmu!

31st May 2012, pukul 09.00 in Gedung Balaikota Yogyakarta

By Emmy Yuniarti Rusadi

External Research and Development Division of KOPHI Yogya

Moderator on Green Launching of KOPHI Yogyakarta Region

 

KOPHI (Koalisi Pemuda Hijau Indonesia) Yogyakarta Region had declared its position by its launching entitled Green Launching. The theme of the whole package of the launching was  “Green Mission For The Better Future”. It was used to motivate the participants and public especially young people know better about their relation to the future. It is not only about making a mission, but how to implement that for a better future. Future here mainly for the environment future. The one that we should preserve, conserve, and take care a long.

On the occasion, we had three main speakers from different background of career. First was Iswanto, S.Pd. M.kes from Ecotourism Sukunan Village, Ir.Sri Adiyaksa from PU Surakarta (Civic work Department of Surakarta), and last was Dra.Ika Rostika, MM from BLH Kota Yogyakarta Environmental Centre Department of Yogyakarta Main City). The big idea from all speakers were that environment should be now our concern. Not only making discourses, but how to act.

The first speaker is a practician also an academician who took experience in 3R action (Reduce, Reuse, Recycle) in Sukunan Village. He did that as a part of heart calling and awareness that even the waste could be useful for human, for a better orientation and advantage. So he did communicate with some stakeholders over there. The stakeholders didn’t mean only the formal institutions or such of  it. But more of it, he invited the local people, scavengers, mom’s community, and he was helped by big support of his wife to do the green project. There was no exact name at the time, but now, we can see it as Ecotourism of Sukunan Village.  The village that popular with its green products such as bags, sandals, flower pots, reuseable woman’s wipe, motorcycle accesories (on the seat part of motorcycle), and others of useful products. These are made by the own self community in Sukunan Village. They use the waste materials like plastics and styrofoams. They create simple machine to produce them all. The social system on that place also changed to be more productive and creative. These are the sample of Sukunan Village strategies we can summarize:

  1. 1.      Mom’s Community

Mr.Iswanto’s wife get involved in making some merchandises from plastics materials. The materials are found from the scavengers by collecting the industry’s plastic ones like ex of detergent’s sachets, big sachets, and separate them into some categories from the colours, type, and pattern. She can sew, so the creation from this kind of activity are product of handmade. So unique because the detail of products are there.

Furthermore, there are special songs created by theme of environment. These are sang by the mom’s community in some meetings, in the small path of village together to touch the awareness fun, by simple words.

  1. 2.      Young Community

Mr.Iswanto awared that the education level over there were not high. The human resources are many in the ricefield occupancy. It means that they need more motivation to know and understand what the advantage to manage the wastes. He tried to place some motivation word of attention near the place people trash the waste commonly, inappropriately. The words contented by soft warning for the people to remember the effect of the bad attitude in trashing inappropriately. He brings the value of religiousity and local wisdoms. Beside that, he can motivate the farmers and the young boys to make flowers pots and building materials for wall. This action also high appreciated because the people in there can use them to rebuild the house, making wall by not heavy materials.

  1. 3.      Bussines Link

There is success without any cooperation. This what makes Mr.Iswanto keep highestimtes to the all components of people in Sukunan Village, for example the scavangers who collect the wastes. One piece of medium size of plastic can be priced by Rp 20,00. Imagine that the numbers of plastics are more than 1000 pieces. Worthed. And this one of economic purpose for local people reached.

  1. 4.      Green Impact

Clean and healthy. Two main words that makes a better situation for Sukunan Village. From them, any impacts such of green educations, green economic, and green motivations are spread away well. People more understand that their village also can be a good sample for other village to do the same, that is why ecotourism of Sukunan Village then be opened.

Now, we move to the other two speakers. Both were from formal/governmental institutions that connects to environmental issues. From Surakarta, we could learn the action of Car Freeday. From Kota Yogyakarta (the Main City of Yogyakarta) we can learn that there is a system in making of greenbelt and green public space by the government buys the public land to build public garden as part of 30% minimum of green spaces according to the national rule of space management (UU Penataan Ruang No.26 Tahun 2007). Many questions were there during the talkshow sessions. Main questions were about the government projects and goals for making a better space and environmental quality. Mrs.Ika Rostika from BLH Kota Yogyakarta said that environment was not only about planting trees also, but how about making habits. Motorcycle that produce so many tons of CO2 have to be reduced. There is a system for the motorcycle user check the number of emission freely in BLH’s laboratory. Other project is a grant of 10 million rupiahs for the hamlet or village use the baby trees to be planted in their areas. So worthed project actually.

Different with Yogyakarta, Surakarta (or as popular name is Solo) keep moving with the green city agenda by planting more trees to reach a goal of City Garden. Others are mainly about reducing the carbon by spreading the campaign of car free day every Sunday in the main roads in there.

From all the info and experiences, we can take lesson learned that all actions can be success only by efforts. No success without efforts. So now, let’s shout: Let’s act for the better future! Our action is our choice, our awareness! Let’s be a green HEROES!!

Salam lestari from KOPHI Yogya 🙂

______________________________________________________________________________

PERAN BANK DUNIA DALAM MASALAH LINGKUNGAN

Oleh
Emmy Yuniarti Rusadi
Litbang Eksternal KOPHI Yogyakarta
emmy.yuniarti.rusadi@gmail.com

Apa mau dikata, berbicara soal lingkungan, harus berbicara soal sistem pembangunan. Kebanyakan Negara berkembang mengandalkan biaya pembangunan pada lembaga internasional, yang akan kita sorot tajam adalah Bank Dunia (World Bank). Perbincangan kali ini terinspirasi dari buku“Menggadaikan Bumi: Bank Dunia, Pemiskinan Lingkungan, dan Krisis Pembangunan” karya Bruce Rich cetakan INFID 1999 yang sangat membuka pandangan tentang bagaimana suatu bangsa harus cerdas mengambil langkah pembangunan agar tidak merusak.
Bagian 5 tentang kelompok-kelompok hijau internasional yang menyerang ide-ide pembangunan yang ditawarkan Bank Dunia. Negara-negara penerima pinjaman seperti digerakkan untuk mengejar devisa, mesin-mesin yang berorientasi ekspor, bahkan sering merusak kebutuhan, social dan lingkungan dalam negeri dalam jangka panjang. Ada pernyataan bohong (ditulis di halaman 150) yang dilontarkan mantan pemimpin Bank Dunia sebagai berikut:
‘Selama satu dekade ini, sebagai bagian dari evaluasi proyek, Bank Dunia mensyaratkan agar setiap proyek yang diperiksa menampakkan tidak ada masalah kesehatan dan lingkungan yang serius. Dan, dengan rasa bangga, saya katakan bahwa semua itu bisa terjadi karena kita melakukan tindakan-tindakan perlindungan pada seluruh proyek yang kita biayai sejak dekade yang silam (A.W.Clausen, November 12, 1981)
Kelompok-kelompok di Washington seperti Natural Resource Defence Council, Environmental Policy Institute, dan National Wildlife Federationbahkan mengritik bahwa kebohongan Clausen semakin terbukti dengan penyelidikan yang mereka lakukan terhadap tubuh Bank Dunia. Fakta mengejutkan bahwa hanya terdapat 6 orang staf yang bekerja untuk Kantor Urusan Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan yang diklaim Clusen bertugas memeriksa setiap proyek Bank Dunia. Coba bayangkan saja sekarang, jumlah seluruh staf Bank Dunia adalah 6000 orang, dimana 3.500 terbilang professional. Perbandingan yang tidak logis. Pun ternyata tugas kantor ini ada pada bagian akhir sebelum proposal investasi disetujui dan dijalankan di Negara peminjam hutang. Proposal investasi memakan waktu dua tahun dari awal kedatangnnya hingga diteliti. Fakta lain, tiga dari enam staf Kantor Urusan Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan tersebut sering ditugaskan riset  dan kerja penelitian yang tidak jelas. Padahal beban tugas itu sudah dihapus pada pertengahan decade 1980-an (halaman 151).
Praktis, tersisa tiga staf yang harus mengevaluasi 3.000 pemberian pinjaman baru yang bernilai sekitar 12 miliar dolar AS per tahun. Lagi-lagi, haya satu yang dibebani tugas memeriksa masalah energy, transportasi, dan pertanian yang berkaitan langsng dengan lingkungan! Ini masih belum membuat Anda terkejut? Ok, ada lagi. Rata-rata laporan yang masuk pada staf tersebut sudah masuk pada tahap penilaian atau tahap akhir. Jika tidak setuju, berarti mengulang hampir dua tahun proses, sehingga kantor lingkungan terpaksa menerima kondisi birokratis yang menyudutkan ini.
Mengetahui fakta ini tentu kemudian dunia bereaksi. Forum internasional diadaan melibatkan senator, menteri-menteri keuangan, menteri luar negeri, dan tentunya tokoh lingkungan hidup dunia.
Laporan internasional yang Bank Dunia paparkan dinilai ambigu, tidak jelas, dan membingungkan, sebagaimana komentar SenatorEranest Gruening pada sidang Kongres. Bahayanya, para kaum akademisi dan periset juga sudah masuk dalam jebakan Bank Dunia dengan ketergantungan biaya riset yang ditawarkan untuk riset-riset pembangunan internasional. Ahli ekonomi Belanda Aart Van de Laar, penulis ”The World Bank and the Poor” , mengatakan bahwa system patronase yang dipraktikkan Bank Dunia menjadikan dewan-dewan penelitian dan ahli pembangunan internasional menjadi orang terakhir yang mereformasi “gereja” (baca: Bank Dunia dan lembaga donor lainnya), yang selama ini mengabulkan segala permintaan mereka (halaman 153 paragraf terakhir dalam poin “Pertanyaan dan Keraguan”).

Dengan melihat fakta-fakta tersebut, apa hikmah moral bagi pemuda? Bagi aktivis lingkungan?
1.    Bukalah wawasan dan idealisme berjuang. Hambatan dana seringkali menjadi musuh dalam selimut jika bertemu dengan lembaga pembangunan internasional seperti Bank Dunia.
2.    Tidak semua riset-riset prestisius itu membawa manfaat positif bagi rakyat kita, rakyat Negara berkembang, rakyat Indonesia yang juga masuk dalam jajaran itu.Kita patut meniru transparansi yang lembaga lingkungan internasional kemukakan mengenai fakta Bank Dunia dalam kerusakan lingkungan yang terjadi di Negara-negara berkembang. Sekalipun lembaga lingkungan internasional itu berasal dari negara superpower yang dicitrakan selalu mendukung aksi pembangunan Bank Dunia.
3.    Akankah ini tidak membangkitkan darah muda kalian, pembaca yang budiman, utuk turut berjuang membuka wawasan publik tentang nasib lingkungan kita ke depan. Apapun latar belakangmu, kitalah pemuda yang menjadi garda terdepan. Tebarkan semangat berani itu dari sekarang. Umurmu, investasimu, ilmu yang bermanfaat.

Demikian, semoga dapat menjadi pendidih semangat. Kritik dan saran selalu dinanti. Terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s